Yesus diutus untuk semua bangsa di dunia?

Tulisan ini adalah hasil refleksi dari perasaan penasaran akan kebenaran pernyataan bahwa “Yesus diutus hanya untuk bangsa Israel”. Proposisi ini biasanya dihubungkan dengan perkataan Yesus di Matius 15:24 “Jawab Yesus: Aku diutus hanya kepada domba-domba hilang dari umat Israel”. Namun pernyataan ini datang dengan sebuah konteks sehingga harus dimaknai dengan melihat kalimat yang datang sebelum dan sesudah pernyataan di ayat 24. Saya bukan seorang ahli teologi dan saya tidak secara khusus belajar untuk ahli dalam bidang agama kristen. Saya sebagai penggiat dan sedang belajar menjadi peneliti literasi membaca, saya paham konteks memahami “kata”, “frasa”, dan “proposisi” berdasarkan tujuan penulisan sebuah teks. 


Penulisan kitab-kitab Perjanjian lama dan Perjanjian Baru dalam Alkitab diterima dengan penuh kesadaran sebagai tulisan tangan manusia yang mendokumentasikan sejarah peradaban umat manusia yang mengakui adanya intervensi kuasa supranatural yang oleh penulis Alkitab sebut sebagai kuasa ilahi.  Pada saat penulisan pun, itu dipercaya bahwa penulisnya diilhami oleh sang Ilahi sendiri. Karna dituliskan dalam bahasa manusia,cara pengungkapannya pun tidak lepas dari unsur-unsur penggunaan konteks ruang dan waktu untuk menyampaikan tujuan dan pesan Ilahi. Hal ini penting dipahami karena ada kitab yang dipandang murni sebagai perkataan langsung yang keluar dari sang Ilahi. Terkadang saya membaca pernyataan bahwa yang paling sempurna adalah kitab tersebut karena bukan “man-made” Saya tidak akan membandingkan perbedaan agama, tapi saya ingin membuat garis batasan teologi yang membuat sebuah kitab agama tidak bisa dipahami berdasarkan pemahaman dari kitab lainnya.

Alkitab ditulis oleh 40 penulis dengan bahasa yang berbeda dan zaman yang berbeda sehingga membaca tulisan ini tidak bisa didekati dengan pemikiran yang dangkal. Ada berbagai unsur yang harus dikuasai pembaca jika dia adalah “outsider” atau orang dari pemahaman agama lain ataupun orang yang tidak berafiliasi dengan manapun. Menggunakan lensa agama lain atau lensa ilmu pengetahuan modern dapat mengaburkan makna sesungguhnya dari pesan yang ingin disampaikan. Ada banyak yang kemudian mendapatkan kontradiksi antara ayat yang satu dengan lainnya karena mencabut ayat-ayat tersebut dari konteksnya. Sudah ada cerita yang membuat orang masuk penjara karena mencabut perkataannya dari konteks. Semoga pada akhirnya semua tersadar bahwa hukum penjara dengan label penistaan agama adalah sebuah kecacatan perjalanan berdemokrasi.


Saya sering mendapatkan pertanyaan-pertanyaan logika ketuhanan dalam kristen yang mengandung proposisi ketuhanan dalam ilmu agamanya. Secara pribadi saya tidak mau melanjutkan percakapan yang menguji dan punya maksud menjatuhkan dan merendahkan nilai-nilai agama orang lain. Jika penanya murni bertanya karena ingin memahami dan ada keinginan berdialog bukan karena ingin berdebat untuk menang maka saya dapat terlibat dalam percakapan tersebut. Hanya orang dengan sudah berbekal dengan ilmu banyak yang dapat membaca teks suci agama lain atau terlibat dialog dengan pemeluk agama lainnya. Orang yang masih memiliki kesombongan rohani yang tinggi tidak dapat dapat menjadi bagian dalam kehidupan yang harmoni. Kesombongan rohani tercermin dari sikap menganggap diri paling benar karena keyakinan agamanya.


Setelah tinggal di negara sekuler, saya baru mulai sedikit demi sedikit memahami mengapa orang disini mulai mengesampingkan ilmu ketuhanan. Pemisahan sistem negara dari hukum agama bukan karena seutuhnya telah menolak peran Tuhan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Saya beberapa kali bertemu dengan orang-orang yang mencari anggota untuk agamanya bertanya “are you spiritual?. Mereka tidak bertanya “Do you believe in God?”. Mengapa demikian? Pertanyaan ini mengambil makna dan penjelasan dalam konteks. Ketika bertanya kepada orang baru, ini membawa pesan bahwa yang bertanya tidak ingin terdengar seperti orang yang memframing kepercayaan pada Yang Maha Kuasa hanya milik pemeluk agama. Mereka yang menyatakan diri tidak berafiliasi dengan agama tertentu tidak memandang bahwa kepercayaan kepada Yang Maha Esa harus diatur secara terstruktur seperti yang sudah distandarkan oleh agama-agama yang ada, dimana agama-agama yang ada seringkali dipandang sangat terbatas dalam mendefinisikan nilai-nilai hubungan personal dengan kekuatan yang lebih besar dari dirinya sendiri.


Kembali ke pernyataan Yesus ketika mengatakan kepada seorang perempuan Kanaan “I was sent only to the lost sheep of Israel”. Saat Yesus mengatakan kalimat ini, di dalam fikiranNya telah ada asumsi tentang wanita ini. Untuk memperlihatkan bahwa wanita ini benar atau tidak terdoktrin dengan pandangan umum dalam masyarakatnya, Yesus lebih lanjut mengungkapkan bahasa yang lebih tajam “Tidak patut mengambil roti yang disediakan bagi anak-anak dan melemparkannya kepada anjing”. Ini kalau diungkapkan kepada orang yang tidak berilmu, dia akan menjadi defensif karena menggunakan kata “anjing” untuk orang yang dari golongan lain. Saya pernah menonton sebuah video di Youtube, Pak Bambang Noorsena mengatakan bahawa “Alkitab itu bacaan untuk orang-orang pintar”. Saya tersadar kalau saya sebenarnya juga pernah jadi orang bodoh yang terjebak dengan logika agama lain dalam memahami Yang Maha Esa.


Dahulu waktu saya belum punya pengalaman “spiritual”, saya juga ikut terjebak dalam perdebatan tentang pernyataan “Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan”. Saya juga ikutan memakai perspektif ini untuk mengkaji ayat-ayat Alkitab yang berhubungan dengan pernyataan-pernyataan Yesus dalam Alkitab. Kecintaan pada ilmu logika, membuatku juga menerapkan pemahaman kekristenan dalam membaca kitab yang menyatakan “Allah yang tidak beranak”. Dengan logika tersebut akhirnya aku menemukan seorang penulis buku yang kemudian bingung pada status “Yesus” dan kemudian menyatakan bahwa “Ternyata Yesus malaikat” dengan alasan bahwa Yesus dan sifatnya tidak memenuhi syarat sebagai manusia dan juga sebagai Tuhan. Ketika memahami suatu teks dengan membawa perspektif tertentu, ayat-ayat kitab suci bisa dijabarkan dengan cara yang sangat berbeda dari tujuan awal penulisanya.


Menjadi pertanyaan umumnya adalah apakah agama tertentu hanya dimaksudkan untuk golongannya saja? Jika Yesus diutus khusus bagi bangsa Israel apakah seharusnya setiap bangsa-bangsa didunia memiliki “messenger” tersendiri sebagai bukti keadilan Allah bagi seluruh umat manusia?. Dalam percakapan dengan seorang teman, dia mengatakan bahwa dia pernah ke gereja yang mengajarkan bahwa Yesus telah datang di Korea. Jika umat ini adalah penyembah Yang Maha Esa berdasarkan utusan khusus untuk bangsa Korea, mengapa mengaku berafiliasi dengan ajaran yang berasal dari bangsa Israel?. Saya tidak ingin berspekulasi dalam hal ini. Setiap orang punya batas pengetahuan untuk memahami sebuah pesan dalam teks. Mari rajin membaca dengan fikiran terbuka. Tidak defensif dengan “discourse” yang ada didepan kita tapi memahami dari berbagai sudut pandang. 


Tulisan selanjutnya akan membahas mengapa orang Kristen mempercayai bahwa Yesus adalah nabi terakhir dan tidak akan ada nabi setelaNYA dari bangsa Israel. Saya akan mencoba menghubungkan, mengapa kemudian ada nabi baru muncul dari kalangan bukan Israel. Saya berasumsi bahwa ini ada hubungannya dengan perdebatan bahwa Yesus diutus untuk seluruh bangsa sementara nabi-nabi sebelumnya adalah khusus untuk menggembalakan orang Israel atau Yesus memang diutus khusus untuk bangsa Israel sehingga bangsa lainnya juga punya nabinya masing masing. 





Comments

Popular posts from this blog

PRONOUNS OF POWER AND SOLIDARITY

A Philosophy of Second Language Acquisition (MARYSIA JOHNSON)

LANGUAGE AND DIALECT