Tuhan menyelematkan nyawaku dari perampokan
-->
Kamis, 04.15 subuh, 24 mei 2012, Aku
berdiri di ujung lorong dirgantara X yang sangat sunyi, menunggu sang adek
menjemputku, membawa barang-barang yang aku bawa dari kampung. Saat itu tak
ada sedikitpun rasa takut , yang aku tahu, aku sedang melihat pengendara
sepeda motor yang menghampiriku, aku fikir itu adalah adekku dan
teman-temannya. Ada empat orang, tiga diantaranya menggunakan helm, dan yang
satunya tidak menegenahkan helm, turun dan bertanya: “dari toraja ya?, dengan
santainya aku menatapnya dan menjawab “iya”. Dia kemudian memegang tas ranselku
dan memintaku untuk memberikan padanya. Aku langsung kanget dan tersadar kalau
mereka adalah komplotan perampok. Aku sepertinya kehilangan akal sehat, tak ada
satupun yang terlintas dikepalaku, aku diliputi rasa takut, yang aku lakukan
hanyalah berteriak: ‘Tuhan Yesus tolong’. Aku berteriak-teriak sambil berusaha
membungkuk mempertahankan tas ranselku untuk tidak terlepas dari pundakku. Sang
perampok memegang pergelengan kiriku, dan berusaha mengambil tas ranselku,
serta memintaku diam. Salah seorang temanya
turun dari motor, dan merebut tasku yang satunya. Aku terus berteriak-teriak
“Tuhan Yesus Tolong”.Sepertinya sang perampok kehilangan akal untuk membuatku
diam, akhirnya dia mengeluarkan parangnya, dan mengancamku, tetapi aku tidak
bisa menguasai diriku, aku tetap saja berteriak, akhirnya perampok itu tidak
segan-segan memarangi tangan kiriku, tapi kuasa Tuhan dinyatakan, tanganku
tidak terluka, hanya tergores, akhirnya dia memarangi tangan kanan ku, tapi
juga tidak terjadi apa-apa pada tanganku, hanya memar-memar, akhirnya memarangi
bagian belakangku, aku tidak terlalu yakin berapa kali, tetapi hanya meninggalkan
1 goresan luka dan memar-memar hitam. Sang perampok kewalalahan dan dia cepat
–cepat menarik ranselku dari belakangku dan kabur.
Saat dia memukulku dengan parangnya,
aku tidak lagi merasakan lagi apa-apa, yang aku ingat ajalku telah tiba. Aku
memandangi lorong yang sunyi dan berfikir bahwa adekku akan mendapatiku telah
terbunuh. Saat perampok berhasil mengambil rannselku dan naik kembali ke
motornya, aku mendapati diriku masih hidup. Seorang bapak keluar dari pintu
pagarnya dan bertanya, aku dengan ekspresi yang aku anggap aneh berkata:
“laptopku diambil orang, aku diparangi (sambil melihat kedua tanganku), tetapi
aku tidak apa-apa”. Orang-orang sekitar jalan itu, keluar dari rumahnya dan
melihatku, sementara itu aku hanya bisa menceritakan apa yang telah terjadi.
Peristiwa ini
telah membuatku sangat terpukul. Sepanjang hari aku tidak bisa konsentrasi.
Aku membaca jurnal untuk dianalisis, tetapi tidak ada satupun yang masuk di
akalku, bayangan perampok itu menguasai fikiranku. Aku berusaha menepisnya dan
aku akhirnya capek hingga aku tertidur. Aku dibangunkan oleh telfonku yang
bordering, satu-satunya yang kupegang yang tidak diambil perampok, padahal HP
itu aku genggam ditanganku dimana sang perampok memegang pergelangan tanganku,
mungkin karena dia berfikir: “ah HPnya jelek” makanya dia tidak tertarik
mengambilnya.
Sangat susah
melupakan kejadian ini. Aku berusaha menyibukkan diriku dengan berbagai
aktifitas, aku bahkan meninggalkan kamarku dan duduk diruang tamu bagian bawah
rumah sambil mengetik tugas-tagasku. Aku tidak ingin melihat tempat laptopku
dan speaker disampingnya, aku tidak mau menginggat kebiasaanku dikamar dengan
teman setiaku itu. Aku mencoba konsentrasi mengetik kata demi kata sambil
memasang headset ditelingaku dan mendengarkan lagu-lagu penyemangat, mencoba
menghibur diri sendir, tetapi bayangan perampok itu selalu menghantuiku.
Sekitar tiga jam aku habiskan di depan laptop, tetapi aku hanya berhasil
mengetik satu halaman saja.
Aku hanya bisa berdoa agar Tuhan memapukan aku melupakan wajanya dan perlakuannya. Aku
berusaha untuk menepis rasa trauma serta rasa dendam di hati dengan berdoa
karena yang aku tahu hanya dengan itu aku bisa merasakan adanya rasa syukur
dihatiku bahwasanya aku masih ada sebagaimana kuada hari ini. Teman-teman
berdatangan ke rumah melihat keadaanku dan memastikan kalau aku baik-baik
saja. Sepanjang hari aku harus menceritakan peristiwa itu berkali-kali kepada
setiap teman-teman yang datang sambil memperlihatkan bekas-bekas luka di tangan
dan badanku. Sulit untuk dipercaya, tetapi itulah kenyataannya bahwa Tuhan
dapat melakukan perkara yang ajaib lebih dari apa yang kita fikirkan. Tuhan
menyatakan kuasanya dalam perlindungannya. Tuhan membuktikan perkataanNYa bahwa
tidak ada seorangpun yang berkuasa mengambil hidup ini, dia yang telah
berfirman “AKU sekali-kali tidak akan membiarkan engkau, dan AKU sekali-kali
tidak akan meninggalkan engkau.
Pagi berikutnya
ketika aku terbangun, aku duduk memandangi tempat laptopku, aku teringat
peristiwa itu, bagaimana teman sejatiku itu telah dipisahkan dariku dengan cara
yang sadis, tanpa terasa aku menetaskan air mataku. Aku mulai menyalahkan
diriku sendiri, aku mulai berfikir betapa bodohnya aku saat itu, mengapa aku turun
dari bis sebelum adekku datang, mengapa aku tidak mengatakan dan memohon pada
sopir bis untuk menunguku sampai adekku datang, mengapa saat perampok itu
memintah ranselku baik-baik, aku tidak langsung saja memberinya, bahkan ketika
dia mengancamku dengan parangnya, mengapa aku masih keras kepala
mempertahankanya. Aku menangis dan betul-betul merasa bodoh, tetapi akhirnya
aku tiba-tiba tersadar, aku datang dan bersujud dihadapan Tuhan seraya memohon
dengan sungguh-sungguh agar Tuhan membantuku menghapus bayangan itu, membantuku
melupakannya, ku katakan padaNYa: ‘jika ENGKAU mampu menyelamatkan hidupku dari
tagan-tangan jahat itu, maka bantulah aku juga untuk menghapus wajanya dari
ingatanku’.
Sepanjang hari itu
aku berusaha melupakannya, saat duduk di ruang kelas, aku berusaha membuang
jauh-jauh dari ingatanku semua kebiasaanku duduk di depan teman setiaku itu
sambil membuka-buka blogku, FBku, dan mendownload lagu-lagu dari Youtobe. Jam
kosong yang biasnya aku habiskan dengan teman setiaku itu, aku habiskan untuk
datang di rumah temanku, mencari kesibukan-kesibukan. Aku berusaha melupakannya.
Aku tidak ingin seorangpun mengingatkanku, tetapi itu sangat susah karena masih
banyak yang penasaran ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Orang-orang yang
pernah mengalami rasa trauma, pasti akan mengerti apa yang aku rasakan. Saat
seperti ini, yang aku sangat harapkan hanyala kata-kata positif dan kata-kata
penyemangat dari orang sekitar, bukan kata-kata yang membuat tambah down dan
stress. Menyalahkan dan menyatakan betapa bodohnya aku, bukanlah hal yang tepat
untuk dinyatakan dimasa-masa seperti ini, karena tanpa diingatkanpun aku sudah
menyadarinya, tetapi semuanya sudah terlambat. Hal itu hanya akan membuatku
stress.
Jadi yang sempat membaca tulisanku
ini, belajarlahh dari semua ini.
Comments
Post a Comment