Posts

Showing posts from 2025

My Reflection

Thank you The Almighty God I had a wonderful time on Christmas eve.  Thank you for having nice flatmates, even though we are from different countries and one of them is Hindu, she followed us to church.  This morning I woke up with happy feelings. Though I am far from home, I felt at peace. Yesterday, I had some complaints but now I know that everything is under His control. I got what I asked for but God also has his mission in me to fulfil. I can not see it clearly at this time but surely I believe that later I will. My reflection time brought me to the old days where I was young, lost, rebellious, and self-centered. Many times I questioned Jesus’ power, mercy, love, and kindness. Only by His grace and patience on me I stand still through all life storms and temptations.  Thank you for who I am now. For all pains and trials in the past, they have built my strong foundation in God and brought me to be better versions of me. I love myself more and accept people as they a...

2025 bercerita: Tuhan tersenyum

Kebahagian dan kesedihan di 2025 benar benar sangat sangat memberikan pelajaran berharga... Mengambil sebuah keputusan besar di awal tahun dengan berangkat ke negeri yang tak pernah kudatangai, sendirian dan dalam keadaan sakit Mengambil topik penelitian yang spertinya terlihat mudah tapi sangat menantang diri sendiri Memutuskan tinggal di tempat yang terbilang lumayan menguras rekening LA dari beasiswa dan tinggal dengan teman teman dari negara lain Saat selesai dengan semua tantangan yang ada hidup mulai terasa menenangkan tetiba harus menerima kabar kalau orang yang selama ini menjadi pahlawanku menggapai mimpiku sakit parah dan harus mikir antara pulang kampung atau tidak, saat masih dalam kebimbangan, Tuhan memanggilnya Beberapa bulan harus hidup dalam penyesalan tapi tetap harus berjuang menghibur diri Empat bulan terakhir telah terlewati dengan sekuat tenaga bertahan Melewati hari dengan mencari therapy yang pas Menonton film, olahraga, makan makanan apapun yang diingink...

Apa lihat lihat, ada utang?

Apes banget si Percaya tidak percaya, sebelum pergi ke kampus siang ini kelopak mata kiri sudah berkedip aneh, seperti diberikan tanda sesuatu yang buruk akan terjadi. Sebenarnya tidak mau percaya tapi entah kenapa memang terlintas firasat buruk. Sata diperjalanan pulang, aku mencoba mengalihkan fikiran aku dari kekosongan karna merasa gagal memberikan performa terbaikku dalam tes hari ini. Dalam kegalutan fikiranku, aku tetiba melihat cewek didepanku, posturnya mirip aku yang pendek. Entah kenapa aku memandanginya terus sambil berfikir apakah aku sependek itu. Tetiba masuklah seorang perempuan yang berpenampilan aneh di penglihatanku. Lamunanku berpindah melihatin pakaiannya yang menurut aku sangat berani dalam memadukan warna celana dan baju cerah yang kontras, merah dan ungu. Fikiranku pun membayangkan penampilanku sendiri, apakah paduan warna baju dan tas yang aku matching juga, hijau (baju) dan biru (tas). Sambil mikir, aku mengalihkan pandanganku ke cewek sebelumnya. Tasnya ju...

Karna terlalu sensitif atau karna sehat?

Sebulan pertama seperti menghitung detik demi detik, hari demi hari. Aku selalu menatap jam dilayarku setiap saat. Agar lupa akan keributan di kepalaku, aku mencatat semua hal yang harusnya kulakukan setiap saat. Kutuangkan dalam bentuk tulisan di catatan harianku agar ku dapat balik dan melihat apa yang ada difikiraku  beberapa saat yang lalu. Sangking banyaknya isi fikiranku, biasanya akan terlupakan beberapa saat kemudian. Aku menyibukkan diriku dengan berbagai hal agar aku tidak merasakan yang namanya homesick.  Aku tahu ku sudah merantau dan berpindah pindah hampir 20 tahun  namun ini adalah merantau terjauh yang pernah kujalani. Sebuah keputusan paling nekat yang pernah kuambil. Bukannya tidak terfikirkan namun sudah dalam perencanaan yang sungguh sungguh hanya saja kutetap merasa ini adalah sebuah keajaiban dan seperti masih di alam mimpi yang panjang. Terlalu jauh untuk bisa balik jika aku rindu pada kenyamanan yang telah kuadaptasikan pada tubuh dan jiwaku. 10 ta...

Catatan perjalanan: bersama Tuhan pasti bisa

PujinTuhan Akhirnya badan sudah balik normal kembali Seminggu seblum berangkat dan 2 minggu sesampainya di Auckland, imun ku benar-benar drop jadi batuk serta tubuh merasa sangat kedinginan  dan selera makan menghilang. 2 minggu lamanya menahan diri untuk tidak banyak jalan keluar karna efeknya kalau pulang, tenggorokan akan gatal sekali dan batuk terus menerus. Walaupun lagi summer dengan suhu 20C sampai 24 C tapi sangat berangin di luar rumah. Minggu lalu aku ke gereja dan kondisinya akan batuk berat kalau habis mandi dan melewati jalan berangin tapi amajingnya selama ibadah sampai pulang gereja sama sekali tidak batuk. Padahal sebelum berngakat, paginya sudah bimbang antara ke gereja atau mau ikut ibadah online saja. Ku agak ragu mau ke gereja takutnya batuk kambuh dan orang orang akan lihat lihat ke arahku dengan tatapan takut tertular (OVTku ahaha) tapi akhirnya ku beranikan diri untuk pergi dengan membawa masker. Dorongan untuk beribadah bersama di gereja benar benar kuat...

Welcome to Auckland, New Zealand

Catatan proses adjustment aku, ada beberapa hal yang belajar untuk aku sukai selama 4 hari sampai di kota ini Mengkonsumsi apa saja yang tersedia, tidak picky dalam hal makanan. Aku bahkan bisa dalam 3 hari pertama sampai, makan roti dengan madu, buah, telur, dan minum susu. Tidak ada gorengan, nasi dan makanan pedas adalah hal yang harus dinormalkan. Susu, rasa dan baunya benar benar bukan selera aku tapi tetap saja kuhabisin setidaknya segelas sehari. Sebagai pengkonsumsi setia madu, aku lihat itu benar benar beda dengan yang biasanya aku minum di Indonesia. Untuk tetap rutin, tiap pagi aku jadikannya sebagai selai di roti gandum aku, ya walau kadang kupaksain telan dengan bantuan air putih. Air putihnyapun harus ku biasakan minum air tab yang di hidungku masih kerasa baunya. Hari ke empat aku makan siang di kafe dengan pesan nasi tapi juga hanya setengah kuhabiskan itupan aku paksaian sebagian dengan bantuan air putih, sayang saja kalau cuma makan sedikit sementara aku  harus ...