Posts

Yesus diutus untuk semua bangsa di dunia?

Tulisan ini adalah hasil refleksi dari perasaan penasaran akan kebenaran pernyataan bahwa “Yesus diutus hanya untuk bangsa Israel”. Proposisi ini biasanya dihubungkan dengan perkataan Yesus di Matius 15:24 “Jawab Yesus: Aku diutus hanya kepada domba-domba hilang dari umat Israel” . Namun pernyataan ini datang dengan sebuah konteks sehingga harus dimaknai dengan melihat kalimat yang datang sebelum dan sesudah pernyataan di ayat 24. Saya bukan seorang ahli teologi dan saya tidak secara khusus belajar untuk ahli dalam bidang agama kristen. Saya sebagai penggiat dan sedang belajar menjadi peneliti literasi membaca, saya paham konteks memahami “kata”, “frasa”, dan “proposisi” berdasarkan tujuan penulisan sebuah teks.  Penulisan kitab-kitab Perjanjian lama dan Perjanjian Baru dalam Alkitab diterima dengan penuh kesadaran sebagai tulisan tangan manusia yang mendokumentasikan sejarah peradaban umat manusia yang mengakui adanya intervensi kuasa supranatural yang oleh penulis Alkitab sebut s...

My First Year as a PhD student, How far I have come

Perjalanan setahun menimba ilmu di negeri orang, bukan hanya tentang gelar, tapi tentang menemukan jati diri,  tentang identitas diri dan pengenalan akan diri sendiri Perjalanan yang mengajarkanku tentang apa yang sebenarnya ku cari, sebagai pribadi yang punya kehendak bebas namun dibatasi oleh keberadaan pribadi lainnya. perjalanan mengenali ragam pilihan yang tak ku temui ketika masih di negeri sendiri   Melihat jauh kedalam diri sendiri ketika bertemu dengan kepribadian yang sama dan beda denganku. Belajar menahan ego dan menempatkan diri pada posisi dan pengalaman orang lain  Menemukan orang orang yang melihatku sebagai pribadi yang harus dikasihani semantara akupun melihat mereka sebagai pribadi yang terhilang  Menemukan diriku mempunyai keunikan dengan pengalaman hidup yang akan sulit dipahami oleh orang-orang yang tak pernah melewati jalan yang kulalui  Pengalaman yang membuatku tumbuh menjadi pribadi yang unik, bukan hanya tentang aku terlahir deng...

My Reflection

Thank you The Almighty God I had a wonderful time on Christmas eve.  Thank you for having nice flatmates, even though we are from different countries and one of them is Hindu, she followed us to church.  This morning I woke up with happy feelings. Though I am far from home, I felt at peace. Yesterday, I had some complaints but now I know that everything is under His control. I got what I asked for but God also has his mission in me to fulfil. I can not see it clearly at this time but surely I believe that later I will. My reflection time brought me to the old days where I was young, lost, rebellious, and self-centered. Many times I questioned Jesus’ power, mercy, love, and kindness. Only by His grace and patience on me I stand still through all life storms and temptations.  Thank you for who I am now. For all pains and trials in the past, they have built my strong foundation in God and brought me to be better versions of me. I love myself more and accept people as they a...

2025 bercerita: Tuhan tersenyum

Kebahagian dan kesedihan di 2025 benar benar sangat sangat memberikan pelajaran berharga... Mengambil sebuah keputusan besar di awal tahun dengan berangkat ke negeri yang tak pernah kudatangai, sendirian dan dalam keadaan sakit Mengambil topik penelitian yang spertinya terlihat mudah tapi sangat menantang diri sendiri Memutuskan tinggal di tempat yang terbilang lumayan menguras rekening LA dari beasiswa dan tinggal dengan teman teman dari negara lain Saat selesai dengan semua tantangan yang ada hidup mulai terasa menenangkan tetiba harus menerima kabar kalau orang yang selama ini menjadi pahlawanku menggapai mimpiku sakit parah dan harus mikir antara pulang kampung atau tidak, saat masih dalam kebimbangan, Tuhan memanggilnya Beberapa bulan harus hidup dalam penyesalan tapi tetap harus berjuang menghibur diri Empat bulan terakhir telah terlewati dengan sekuat tenaga bertahan Melewati hari dengan mencari therapy yang pas Menonton film, olahraga, makan makanan apapun yang diingink...

Apa lihat lihat, ada utang?

Apes banget si Percaya tidak percaya, sebelum pergi ke kampus siang ini kelopak mata kiri sudah berkedip aneh, seperti diberikan tanda sesuatu yang buruk akan terjadi. Sebenarnya tidak mau percaya tapi entah kenapa memang terlintas firasat buruk. Sata diperjalanan pulang, aku mencoba mengalihkan fikiran aku dari kekosongan karna merasa gagal memberikan performa terbaikku dalam tes hari ini. Dalam kegalutan fikiranku, aku tetiba melihat cewek didepanku, posturnya mirip aku yang pendek. Entah kenapa aku memandanginya terus sambil berfikir apakah aku sependek itu. Tetiba masuklah seorang perempuan yang berpenampilan aneh di penglihatanku. Lamunanku berpindah melihatin pakaiannya yang menurut aku sangat berani dalam memadukan warna celana dan baju cerah yang kontras, merah dan ungu. Fikiranku pun membayangkan penampilanku sendiri, apakah paduan warna baju dan tas yang aku matching juga, hijau (baju) dan biru (tas). Sambil mikir, aku mengalihkan pandanganku ke cewek sebelumnya. Tasnya ju...

Karna terlalu sensitif atau karna sehat?

Sebulan pertama seperti menghitung detik demi detik, hari demi hari. Aku selalu menatap jam dilayarku setiap saat. Agar lupa akan keributan di kepalaku, aku mencatat semua hal yang harusnya kulakukan setiap saat. Kutuangkan dalam bentuk tulisan di catatan harianku agar ku dapat balik dan melihat apa yang ada difikiraku  beberapa saat yang lalu. Sangking banyaknya isi fikiranku, biasanya akan terlupakan beberapa saat kemudian. Aku menyibukkan diriku dengan berbagai hal agar aku tidak merasakan yang namanya homesick.  Aku tahu ku sudah merantau dan berpindah pindah hampir 20 tahun  namun ini adalah merantau terjauh yang pernah kujalani. Sebuah keputusan paling nekat yang pernah kuambil. Bukannya tidak terfikirkan namun sudah dalam perencanaan yang sungguh sungguh hanya saja kutetap merasa ini adalah sebuah keajaiban dan seperti masih di alam mimpi yang panjang. Terlalu jauh untuk bisa balik jika aku rindu pada kenyamanan yang telah kuadaptasikan pada tubuh dan jiwaku. 10 ta...

Catatan perjalanan: bersama Tuhan pasti bisa

PujinTuhan Akhirnya badan sudah balik normal kembali Seminggu seblum berangkat dan 2 minggu sesampainya di Auckland, imun ku benar-benar drop jadi batuk serta tubuh merasa sangat kedinginan  dan selera makan menghilang. 2 minggu lamanya menahan diri untuk tidak banyak jalan keluar karna efeknya kalau pulang, tenggorokan akan gatal sekali dan batuk terus menerus. Walaupun lagi summer dengan suhu 20C sampai 24 C tapi sangat berangin di luar rumah. Minggu lalu aku ke gereja dan kondisinya akan batuk berat kalau habis mandi dan melewati jalan berangin tapi amajingnya selama ibadah sampai pulang gereja sama sekali tidak batuk. Padahal sebelum berngakat, paginya sudah bimbang antara ke gereja atau mau ikut ibadah online saja. Ku agak ragu mau ke gereja takutnya batuk kambuh dan orang orang akan lihat lihat ke arahku dengan tatapan takut tertular (OVTku ahaha) tapi akhirnya ku beranikan diri untuk pergi dengan membawa masker. Dorongan untuk beribadah bersama di gereja benar benar kuat...

Welcome to Auckland, New Zealand

Catatan proses adjustment aku, ada beberapa hal yang belajar untuk aku sukai selama 4 hari sampai di kota ini Mengkonsumsi apa saja yang tersedia, tidak picky dalam hal makanan. Aku bahkan bisa dalam 3 hari pertama sampai, makan roti dengan madu, buah, telur, dan minum susu. Tidak ada gorengan, nasi dan makanan pedas adalah hal yang harus dinormalkan. Susu, rasa dan baunya benar benar bukan selera aku tapi tetap saja kuhabisin setidaknya segelas sehari. Sebagai pengkonsumsi setia madu, aku lihat itu benar benar beda dengan yang biasanya aku minum di Indonesia. Untuk tetap rutin, tiap pagi aku jadikannya sebagai selai di roti gandum aku, ya walau kadang kupaksain telan dengan bantuan air putih. Air putihnyapun harus ku biasakan minum air tab yang di hidungku masih kerasa baunya. Hari ke empat aku makan siang di kafe dengan pesan nasi tapi juga hanya setengah kuhabiskan itupan aku paksaian sebagian dengan bantuan air putih, sayang saja kalau cuma makan sedikit sementara aku  harus ...

Pantaskah aku marah, sedih atau bahagia sembarangan?

Tidak bisa mengamuk langsung depan orang, memilih menahan diri, tapi akan tersimpan dan setiap saat bisa teringat kembali. Marah dan kecewa, memilih tidak percaya lagi sama orang tersebut dalam waktu tertentu sampai benar benar lupa dan memberi maaf. Lamanya waktu untuk memaafkan seutuhnya berdasarkan level kekesalan yang ditimbulkan dihati dan dampak yang ditimbulkan bagi kehidupanku yang fana ini. Tapi pada dasarnya sering memberi maaf karna aku tahu ku juga tidak sempurna. Ada  juga momen dimana ku mengecewakan orang lain dan tentunya ku berharap banyak orang tersebut akan melupakan kesalahanku, tak menyimpan kesalahanku dalam waktu lama. Merelease kemarahan biasanya kulakukan dengan menulis. Aku merasa bebas mengekspresikan semua kekesalan di hati diatas kertas (dahulu) tapi sekarang di note samsung. Hati menjadi lega ketika selesai curhat. Ada 2 tempat favorit bercerita: Doa dan tulisan. Aku merasa rahasia hatiku aman disana. Tidak akan menjadi isu yang balik menyerangku sepe...

Mengapa harus menikah

Beberapa hari ini otakku selalu kefikiran dengan sebuah statement atau komentar umum di tengah masyarakat konservatif ketika melihat seseorang berumur 25 tahun keatas dan belum menikah " tidak ada gunanya kerja keras cari uang jika tidak ada anak dan istri yang dia hidupi". Kalimat tersebut biasanya dituturkan kepada kaum lelaki berhubung tugas untuk mencari nafkah dibebankan pada suami atau bapak dalam keluarga. Sebagai seorang perempuan dari keluarga yang sangat konservatif, tidak menikah diusia 37 tahun adalah hal yang tak biasa bahkan bisa dibilang aib keluarga sehingga saya akan senantiasa ditegur dengan kalimat diatas dan ditambah dengan embel-embel bahwa kesuksesan seseorang itu tidak ditentukan dengan harta, kekayaan, dan pendidikan, itulah sebabnya pertanyaan pertama saat bertemu orang lain adalah "sudah berapa anakmu?". Saya mulai bertanya dalam hati, mengapa dulu saya sangat fokus dengan belajar dan bersekolah? Sebagai seorang perempuan yang terbiasa den...

Ujian Nasional (UN): benarkah mengembalikan UN dapat meningkatkan prestasi siswa-siswi di sekolah?

Akhir-akhir ini, ramai perbincangan tentang mengembalikan UN di tingkat Sekolah Menengah Atas (SMA) untuk mengukur standar kelulusan siswa. Mereka yang mengajukan ide ini mengambil kesempatan di momen pergantian menteri Nadim yang telah menghapuskan UN pada tahun 2021 sebagai respon terhadap mewabahnya pandemi Covid beserta dicanangkannya kurikulum Merdeka. Untuk menyikapi ini, saya ingin melihat alasan dibalik penghapusan UN oleh mentri sebelumnya dengan pengembalian UN dimasa yang akan datang. Dilansir dari detikedu 15 Juli 2021, peniadaan UN bukan hanya sebagai respon terhadap pandemi Covid namun untuk menghindari adanya unsur ketidak adilan dalam pelaksanaan UN. Nadim saat itu mengatakan secara tersirat bahwa ada kecenderungan diskriminatif terhadap siswa dari kalangan kurang mampu dalam UN. Mereka (siswa kurang mampu) hanya mengandalkan dukungan dan fasilitas minim yang disiapkan oleh sekolah sementara teman yang lainnya dapat mengikuti kelas persiapan khusus seperti bimbel. Peng...

Ironi di negeri yang kaya

Beberapa alasan sebuah kota dihuni orang pandai tapi tetap miskin: Ada orang pintar tapi miskin karna tidak punya skill mengubah kepandaiannya menjadi bisnis atau ladang untuk cari penghasilan. Ada juga yang sudah bisa menghasilkan banyak tapi tidak pandai mengelola keuangannya. Beberapa diantaranya yang kaget dengan uang banyak jadi lupa diri, dihabiskannya itu dibisinis minuman dan obat terlarang bahkan ada yang berlanjut di kamar-kamar yang bukan dibangun untuknya. Beberapa orang terlihat baik namun keterlaluan sehingga makan puji.  Pernah juga kumelihat kemiskinan orang-orang pintar disebabkan oleh faktor sosial dan keluarga. Pesta pora untuk kesenangan sementara lebih penting daripada masa depan anak cucunya dalam mengenyam pendidikan. Terlalu perhitungan untuk kepentingan sekolah, selalu mengangap pendidikan itu mahal. Selalu bergantung pada yang gratis jika berhubungan dengan pengembangan diri dan investasi masa depan anaknya di masa mendatang. Masih berlanjut.... Data i...

Hari yang panjang dengan SKCK

Panas Keringat Mood jelek Marah Kaca mata rusak Pelayanan Tidak prima Ditolak Aneh Tidak jelas Malas debat Tahan diri Dihati, Menggerutu Tetap considerate Siapa yang salah? Aku? Matahari? Greenhouse? Police administration?

Cara manjur mengobati sakit mental

Suatu masa, Ada rasa, Mental tak baik baik saja, Suatu malam Mata sulit terpejam, Kepala penuh keributan, Urat syaraf menjerit kesakitan, Ketakutan berlebihan, Harapan seakan sirna ditelan gelapnya malam, Suatu hari, Hidup hanya untuk bernafas, Denyut nadi terhenti pun tak jadi soal, Senyum hanya sebagai hiasan Suatu keadaan, Kesedihan hadir tanpa alasan, Konsentrsasi hanya sekejap, Temanpun tak penting, Bercerita? Pada siapa? Mengertikah mereka? Tidak? Siapakah penolongku? Diriku? Keluargaku? Temanku? Hobiku? Psikolog? Waktu telah menjawab, Kutemukan kenormalan, Kutemukan diriku kembali, Ku dapatkan diriku yang terhilang.

Dear diary Indonesia Vs English

Me when I am trying to curhat. Observe the difference when I'm thinking in Indonesia Vs in English. In Indonesia Harus kuakui, hampir semua kriteria yang kuinginkan ada padanya tapi aku melepaskannya karna aku tidak mau kerumitan yang kutahu akan menyita waktu dan menguras energiku. In English I have to admit that I had found a guy that met allmost all of my criterias for a husband but I let him go. I did not want to invove in a drama that could absorb a lot of energy. I could not handle all negative comments and at the end of day, I knew he and I might not be happy. That's sad but I thank to God who has provided a perfect comfort and helped me to move on. How could I cope with the lost? That's another story for another day.

Mengapa Orang Kristen bisa percaya Yesus adalah Tuhan dan Juruselamat dan mengapa ada yang murtad?

Hari PENTAKOSTA Hari ke 50 setelah kebangkitan Kristus dari kematian Apa pentingnya Roh Kudus dalam kehidupan orang yang percaya kepada berita injil? Menjawab pertanyaan ini sangat penting karena hanya dengan memahami arti kehadiran Roh Kudus dalam kehidupan seorang Kristen, saudara akan memahami tentang konsep iman Kristen. Acapkali iman kekristenan sangat kabur maknanya ketika kehadiran Roh Kudus diabaikan. Pertanyaan tentang ketuhanan dan kemanusian Yesus selalu menjadi perdebatan bagi mereka yang mengandalkan logika dan konsep berfikir selain iman kekristenan.  Berikut akan dijelaskan  mengapa Yesus menjanjikan Roh Kudus bagi murid-muridNya. Sebelum terangkat ke sorga, 10 hari sebelum Pentakosta, Yesus menguatkan murid-muridNya dengan berkata " Dan Aku akan mengirim kepadamu apa yang dijanjikan Bapa-Ku. Tetapi kamu harus tinggal di dalam kota ini sampai kamu diperlengkapi dengan kekuasaan dari tempat tinggi." ( Lukas 24 : 49). Janji tentang Sang penolong dipenuhi dan ...

Pengenalan Tiga Agama Samawi

Agama Yahudi, Agama Kristen/Katolik dan agama Islam mempunyai akar kepercayaan yang sama namun tentu saja memiliki perbedaan yang signifikan karna dibentuk pada jaman dan situasi yang berbeda. Kitab Taurat (Musa) sebagai kitab agama Yahudi mulai diberikan ketika bangsa Israel di masa "exodus". Saat itu, terlihat bahwa Tuhan fokus untuk membentuk pola fikir suatu bangsa yang terbiasa hidup sebagai budak di negeri orang. Mental inferior yang mereka miliki harus dibentuk kepada mental pejuang untuk membangun sebuah peradaban sebagai bangsa yang merdeka dibawa kepemimpinan nabi-nabi yang dipilihkan oleh Allah sendiri. Tuhan membentuk ketaatan mereka dibawa kekuatan Allah yang adalah satu-satuNya Tuhan yang tidak dapat disejajarkan dengan allah bangsa bangsa lainnya Kitab injil merupakan tulisan para murid-murid Kristus, ditulis untuk mendokumentasikan ajaran Yesus yang kemudian menjadi kitab bagi pengikut Kristus (Kristen). Kisah-kisah dan aturan hidup dalam kitab ini ditujukan ...

Chapter 1. Tanah rantau: Perkenalan di hotel

Pachy membuka jendela kamar hotel dengan senyuman gembira. "Selamat pagi dunia" Dia melayangkan pandangannya ke sekitar. "Matahari disini tampak berbeda dari mentari ditempatku" gumannya "Bukannya mentari pagi akan selalu sama ya" balas Yuri yang masih malas-malasan di tempat tidur. "Oh jelas berbeda" Pachy atau sering disapa Achy menimpali. "Di tempatku, saat buka jendela kamar, matahari akan tampak bulat sempurna dengan cahaya putih dan jingga mengitarinya. Ah aku baru sehari saja meninggalkan rumah tapi rasanya telah se-abad". Achy masih berdiri di jendela dan tatapannya melayang ke gedung gedung tinggi yang tak ditemui di kota kecilnya. "Pertama kali pergi dari rumah? "Aku beberapa kali ikut kegiatan camping yang letaknya tak jauh dari kampung, dan paling hanya untuk 2 atau 3 hari". "Merantau untuk pertama kalinya!" "Ya dan langsung yang jauh, ribuan kilometer" "Pertama naik pesawat" ...

Politik: apakah mayoritas masyarakat Indonesia sangat gampang dimanipulasi?

Nampaknya mayoritas masyarakat Indonesia  setuju dengan ide keberlanjutan daripada ide perubahan. Kalau  banyak yang harus dibenahi dan diperbaiki, itulah tugas PR bersama. Ada wakil-wakil rakyat yang menghabiskan banyak dana negara untuk membantu pemimpin serta ada pemimpin di setiap daerah, pegawai-pegawai negara. Ada publik yang mengontrol. Ada suara-suara yang menyerukan kekuatiran akan nasib bangsa ini dengan kalimat kalimat pesimis serta mengandung unsur ancaman serta prediksi buruk. Bagi saya itu adalah suara-suara orang yang (hanya) merasa diri pintar namun nampaknya belum dewasa dalam berdemokrasi. Suara kemarahan dari mereka yang merasa diri waras namun sepertinya kurang merasakan penderitaan mayoritas masyarakat disekitarnya. Ilmu pengetahuan yang mereka dapatkan belum bisa dikatakan telah menyentuh orang-orang bumi disekitarnya. Barangkali dia memimpikan hidup hanya dengan teman-temannya yang berpendidikan saja dan mengabaikan mereka yang hidupnya belum seberuntun...

Neuroscience in Education System: a simple essay

  The implementation of neuroscience in the education system is a debate among experts. There is a view mentioned that if no more children are living under the poverty line, when all have equal access to quality education, then technological and standardized tests can be implemented throughout the country. Others see the test based on neuroscience principles as necessary to evaluate the education system. Despite the doubt or skepticism, the information obtained from the standardized test can be used to see the progress of each school. The foremost benefit of having information on students’ academic achievement is that the policymakers and educators can evaluate all aspects or components of the education system. The data from the evaluation might be used as a basis to make some changes for future implementation. If an aspect is deemed as a factor that slows the progress down, the solution could be focused on the area. The neglectful parenting style for most children in some school...